Membaca Novel? Mengapa Tidak

novel-kemampuan-memimpin-consultanthr

Jika Anda manager atau CEO, tapi tidak suka membaca novel, pertimbangkan lagi.

 

Membaca novel berdampak siginifikan bagi kemampuan kepemimpinan Anda, demikian tulis artikel dalam Harvard Business Review Agustus 2012. John Coleman, penulis artikel tersebut menyatakan bahwa kebiasaan membaca bacaan terfokus dan mendalam (deep reading), salah satunya membaca novel, merupakan karakteristik dari pemimpin-pemimpin besar.  Membaca novel  menjadi katalis untuk mendapatkan wawasan baru, inovasi, empati, dan meningkatkan efektifitas pribadi.

 

Bahkan seorang Profesor bernama Christopher Michaelson, dari Universitas St. Thomas, Minnesota, Amerika, mengkaji pentingnya membaca novel bagi mahasiswa bidang bisnis untuk tetap kompetitif dan eksploratif dalam dunia kerja dan pribadi di abad 21.  Risetnya dimuat dalam jurnal ilmiah (Academy of Management Learning Education Journal, tahun 2016, vol. 15).

 

Profesor Michaelson juga menambahkan tujuh novel yang layak dibaca oleh pebisnis untuk bisa resiliens (tidak mudah patah, lenting) menghadapi ‘kejamnya’ dunia bisnis.  Berikut ini tujuh novel yang direkomendasikannya:

  1. The Circle, oleh Dave Eggers
  2. A week in December, oleh Sebastian Faulks
  3. The reluctant Fundamentalist, oleh Mohsin Hamid
  4. Frankenstein, or the modern Prometheus, oleh Mary Wollstonecraft Shelley
  5. Master and Man, oleh Leo Tolstoy
  6. The Pale King, oleh David Foster Wallace
  7. The embassy of Cambodia, Zadie Smith

Anda tidak harus mulai membaca novel dengan novel-novel di atas.  Novel apa saja, yang tipis, juga bisa berdampak pada kita. Berdasarkan pengalaman penulis, bukan tebal atau tipisnya novel, tapi bagaimana karakter dan kisah yang ada di cerita tersebut bersinggungan dengan kenyataan hidup pembacanya.  itulah yang menarik.

 

Membaca novel, yang juga merupakan “deep reading” memang seringkali tidak mudah, selain alasan waktu, juga alasan tidak ada kaitannya dengan pekerjaan yang ditangani.  Untungnya, pemikiran ini salah. Dampak positif membaca novel sangat banyak dan juga telah dibuktikan dalam riset-riset ilmiah, salah satunya seperti yang telah disebutkan diatas.

 

Pembaca buku atau novel (deep reader) juga merupakan  orang yang selalu menarik untuk ditemui dan ajak bicara.  Deep reader biasanya orang yang cerdas, bijak, dan memiliki perspektif yang beragam dengan pemikiran yang luas.  Berada di dekat orang yang suka membaca buku, bahkan dapat membuat kita jatuh cinta.  Mengapa?

 

Riset menunjukkan bahwa orang-orang yang hobi membaca buku termasuk novel, memiliki kemampuan people skills yang lebih tinggi daripada orang yang enggan membaca buku.  Membaca novel, berarti belajar memahami karakter tokoh-tokohnya dengan situasi-situasi yang mereka hadapi. Mencermati berbagai kondisi dan peristiwa yang dialami tokoh-tokoh tersebut mau tidak mau akan memberikan gambaran pada Anda untuk antisipasi bila menghadapi situasi dan kondisi yang sama.

 

Tak ada kata telat untuk mulai membiasakan diri membaca buku, bahkan untuk mulai membiasakan membaca buku, Anda dapat memulainya dengan membaca novel.   Novel yang bagus, akan membuat Anda semakin ingin mencari novel lainnya dan membuat Anda semakin menarik 🙂

 

Jadi tunggu apalagi? segera cari novel yang sudah lama ingin Anda baca, dan mulailah membacanya sesegera mungkin!


Share this post :
Posted in HR & Psychology, Organizational Psychology Topics

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Buku

Subscribe Artikel

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other subscribers

Polling

Apakah Anda sudah merasa cocok dengan karir Anda saat ini?

View Results

Loading ... Loading ...

Latest Tweet

Subscribe Newsletter

Quotes of the day

Old friends pass away, new friends appear. It is just like the days. An old day passes, a new day arrives. The important thing is to make it meaningful: a meaningful friend - or a meaningful day.
Dalai Lama